Gelombang Radio, Gelombang Suara dan Eksperimen dr. Brooks Agnew Mengenai HAARP


dr.Brooks Agnew yang membuat eksperimen mengenai ELF yang dipancarkan oleh HAARP ternyata masih belum bisa membuktikan bahwa HAARP bisa menciptakan gempa bumi. Saat ini rumor mengenai HAARP yang disinyalir sebagai senjata yang bisa menyebabkan gempa bumi masih belum bisa dibuktikan.

dr.Brooks Agnew yang sempat muncul di sebuah video dokumenter milik History Channel dan menyatakan bahwa HAARP mampu menciptakan gempa bumi dengan mendemonstrasikan menggunakan sebuah sub-woofer justru menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa demikian ? Karena eksperimen yang dia lakukan adalah menggunakan “suara” (gelombang suara) sedangkan yang dipancarkan oleh HAARP adalah gelombang radio (radio wave) dimana kedua gelombang ini adalah gelombang yang sama sekali berbeda.

BASICS

Gelombang suara

Gelombang suara ada sebagai variasi tekanan pada sebuah medium, misalnya udara. Gelombang suara ini tercipta dari getaran sebuah obyek yang menyebabkan udara di sekitarnya bergetar. Udara yang bergetar ini juga menggetarkan gendang telinga kita, yang oleh otak kita diterjemahkan sebagai suara.

ilustrasi, gambaran gelombang suara yang merambat melalui media udara

Gelombang suara merambat melalui udara hampir sama dengan gelombang air, karena gelombang air lebih mudah dilihat maka gelombang air ini sering digunakan sebagai analogi untuk mengilustrasikan bagaimana perilaku gelombang suara.

Dalam sebuah sinyal elektronik, nilai yang tinggi mewakilkan voltase positif yang tinggi. Ketika sinyal ini diubah menjadi gelombang suara, anda bisa menganggap nilai (angka) yang tinggi mewakilkan sebuah area dimana tekanan udaranya meningkat. Ketika bentuk gelombang mencapai titik yang tinggi, hal ini menyebabkan molekul udara berhimpitan lebih dekat. Ketika gelombang mencapai titik rendah molekul udara tersebar lebih renggang.

Pada diagram di bawah ini, titik-titik hitam mewakili molekul udara. Ketika loudspeaker bergetar, getarannya menyebabkan molekul udara di sekitarnya ikut bergetar dengan pola tertentu yang sesuai dengan bentuk gelombang. Udara yang bergetar kemudian menyebabkan gendang telinga si pendengar ikut bergetar dengan pola yang sama. Itulah suara.

Perhatikan bahwa molekul udara tidak bergerak dari speaker ke telinga (kecuali angin). Masing-masing molekul hanya bergerak dalam jarak yang kecil ketika bergetar, tetapi menyebabkan molekul di dekatnya ikut bergetar membentuk efek beriak (seperti riak (ripple) yang disebabkan oleh tetesan air di atas air yang tenang) hingga mencapai telinga.

Eksperimen dr. Brooks Agnew

Konsep di atas itulah sebenarnya yang dilakukan oleh dr. Brooks Agnew ketika melakukan percobaan dengan menggunakan sebuah sub-woofer untuk mensimulasikan dan membuktikan bahwa ELF dari HAARP terhadap sebuah miniatur yang dibuatnya.

Ketika loudspeaker berbunyi dan bergetar, dia menggetarkan udara di sekitar, udara yang bergetar itu dengan frekuensi yang tepat akan ikut menggetarkan molekul benda yang berada di dalam kotak kaca yang diasumsikan sebagai miniatur lingkungan yang terkena dampak HAARP yang hasilnya sebagian besar benda yang ada di dalam kotak itu ikut bergetar dan menyebabkan batu “slide” turun.

Sama persis dengan mekanisme saat gendang telinga kita yang ikut bergetar karena getaran udara yang frekuensinya tepat yang disebabkan oleh getaran loudspeaker, jika frekuensinya tidak tepat (terlalu tinggi atau terlalu rendah dari daya tangkap gendang telinga kita yaitu sekitar 20 Hz sampai 20kHz) kita tidak akan mendengarkan suara tersebut karena getaran udara yang ditimbulkan tidak cukup kuat untuk menggetarkan gendang telinga kita.

Gelombang Radio

Berbeda dengan gelombang suara yang hanya mengirimkan getaran ke sebuah obyek, gelombang radio bisa mengirimkan suara, gambar, ataupun data (teks atau angka) yang tidak terlihat melalui udara hingga sejauh jutaan kilometer.

Gelombang radio sebenarnya adalah sebuah radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang yang lebih panjang daripada sinar infra merah. Gelombang radio mempunyai frekuensi dari 300 GHz hingga terendah yaitu 3kHz dengan panjang gelombang dari 1 mm hingga 100 kilometer. Gelombang radio terjadi secara alami yaitu yang disebabkan oleh petir, atau oleh benda-benda astronomi (misalnya bintang, galaksi, pulsar dan sebagainya) sementara gelombang radio buatan biasanya digunakan untuk komunikasi radio (baik fixed atau mobile), broadcasting, radar, remote control dan sistem navigasi lain, komunikasi satelit, jaringan komputer dan pengaplikasian lain.

Gelombang radio dengan frekuensi yang berbeda mempunyai peran yang berbeda dalam atmosfer bumi; gelombang panjang bisa mencakup sebagian bumi secara konstan, gelombang yang pendek bisa terpantulkan oleh ionosfer dan bergerak ke seluruh dunia, dan gelombang yang lebih pendek dibelokkan atau dipantulkan sangan sedikit pada jarak pandang.

Untuk menerima sinyal radio, kita memerlukan antena. Bagaimanapun juga antena itu akan menerima ribuan sinyal radio sehingga pengatur (tuner) diperlukan untuk memilah-milah frekuensi radio yang akan ditangkap.

Dalam dunia kedokteran energi frekuensi radio telah digunakan dalam kurun waktu lebih dari 75 tahun, salah satunya adalah MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang menggunakan frekuensi radio untuk memetakan tubuh manusia. Metode yang sama digunakan oleh HAARP untuk memetakan bumi.

Dalam MRI seorang pasien akan dimasukkan ke dalam sebuah ruangan berbentuk tabung yang merupakan sebuah magnet. Ketika pasien bergerak masuk ke dalam tabung, medan magnet akan mengubah posisi sejajar proton dari inti atom hidrogen yang kemudian tertangkap oleh gelombang radio dan sinyalnya diterima oleh receiver MRI. Untuk HAARP tidak perlu lagi menggunakan alat tambahan cukup gelombang radio saja karena bumi sendiri sudah mempunyai medan magnet dan selalu berputar yang menyebabkan perubahan alignment (pensejajaran) proton setiap detik yang ditangkap oleh gelombang radio dan diterima oleh receiver HAARP.

Perbedaan Gelombang Suara dan Gelombang Radio

Gelombang suara (seperti yang digunakan oleh dr. Brooks Agnew dalam eksperimennya) adalah sebuah variasi tekanan dalam sebuah medium yang menyebabkan pertikel-pertikel nya bergetar yang bergerak dengan kecepatan suara yang kita sebut dengan Mach, dimana kecepatan suara ini berbeda-beda tergantung kondisi mediumnya. Misalnya pada gas (udara), kecepatan suara tergantung dari temperatur. Pada 20 °C (68 °F) udara pada garis laut (ketinggian 0m), kecepatan suara adalah sekitar 343 m/s (1.230 km/jam). Sedangkan dalam air tawar, juga pada 20 °C, kecepatan suara adalah sekitar 1.482 m/s (5.335 km/jam). Semakin padat partikel mediumnya maka suara akan merambat semakin cepat, sedangkan di luar angkasa suara tidak bisa merambat (suara tidak akan terdengar dalam frekuensi berapa pun).

Gelombang radio adalah sejenis radiasi elektromagnetik yang mampu mengirimkan suara, gambar dan data dan sama seperti semua gelombang elektromagnetik gelombang radio ini bergerak dengan kecepatan cahaya( 299.792.458 m/s atau sekitar 300.000 km/s ) baik melalui medium dan di ruang hampa, untuk itulah gelombang radio ini sering digunakan sebagai media komunikasi satelit termasuk untuk mengirimkan/menerima data kepada orbiter Cassini yang berada di orbit saturnus serta menerima data dari Huygens yang telah mendarat di Titan beberapa tahun lalu. Tidak seperti gelombang suara, gelombang radio ini tidak menggetarkan partikel-partikel di sekelilingnya dan lebih mirip gelombang cahaya.

Gelombang suara berfrekuensi rendah terjauh yang pernah didengar manusia adalah saat letusan Gunung Krakatau yang suaranya terdengar seperti bunyi letusan meriam di pesisir pantai Australia. untuk bisa menggetarkan tanah di belahan bumi lain seperti yang diteorikan oleh dr Brooks Agnew tentunya membutuhkah suara yang lebih dahsyat daripada suara letusan Gunung Krakatau tahun 1883, sedangkan gelombang Radio bisa mencapai seluruh dunia dan luar angkasa, komunikasi konstan terjauh yang dilakukan oleh manusia dengan mesin menggunakan gelombang radio adalah komunikasi antara Ground control dengan Cassini-Huygens di orbit Saturnus.

Apakah eksperimen dr. Brooks Agnew bisa membuktikan bahwa HAARP mampu menyebabkan gempa bumi?

Tidak. Karena eksperimen dr. Brooks Agnew melibatkan gelombang suara, bukan gelombang radio dimana dua gelombang ini mempunyai mekanisme, fungsi dan penerapan yang berbeda. Apabila metode topography yang digunakan oleh HAARP menyebabkan gempa bumi, seharusnya kejadian serupa juga terjadi pada pasien yang sedang di scan menggunakan MRI. Lagipula kalau memang eksperimen dr. Brooks Agnew benar seharusnya HAARP rusak parah karena merupakan sumber gelombang suara (Bergetar seperti sub woofer yang di simulasikan oleh dr. Brooks Agnew) yang menggetarkan udara dan benda lain.

*Catatan: Ini adalah artikel pindahan dari blog lama yang dipublikasikan pada tanggal 28 Oktober 2011


Dipublikasikan oleh theangelwing dalam kategori Science, Teknologi pada tanggal Sep 02, 2016
Tags :