Image Kereta Api Indonesia


Beberapa perusahaan, produk atau layanan pasti memiliki image tersendiri dalam diri masyarakat terutama konsumen, saya sebagai pengguna jasa transportasi kereta api juga mengamati apa saja yang terjadi ketika saya menggunakan layanan ini. Berikut adalah beberapa image yang melekat dalam diri masyarakat, termasuk saya, mengenai Kereta Api Indonesia.

1. Masalah klasik : Calo

Calo tidak hanya terjadi di dunia Perkereta-apian saja, tetapi juga di berbagai layanan yang menggunakan tiket mulai tiket transportasi sampe tiket bioskop, langkah antisipasi praktek percaloan yang paling santer dibicarakan adalah calo tiket kereta api, bahkan pernah diberitakan PT. KAI menerjunkan ribuan polsuska ( Polisi Khusus Kereta Api ) untuk mengatasi Calo, meskipun demikian ternyata praktek percaloan masih terjadi. Kasus yang saya temui adalah pada bulan Desember 2015.

Karena kehabisa tiket kelas Bisnis dan Eksekutif akhirnya saya membeli tiket Ekonomi secara online, ketika hari keberangkatan saya dapati kursi saya diduduki oleh seorang ibu dan keluarganya, dia bersikeras bahwa tiketnya merujuk pada tempat duduk itu, kemudian saya bilang “nanti kita tanyakan saja sama petugasnya”. Setelah saya bilang seperti itu, si ibu itu mengalah dan pindah mencari tempat duduk lain yang kebetulan kosong.

Ketika saya periksa tiketnya, ternyata ibu ini membawa tiket dari Kebumen dengan tujuan Surabaya Gubeng ( saya naik kereta dari Surabaya Gubeng tujuan Jember ), ketika saya tanya “Ibu turun mana ?” Si ibu itu menjawab “Jember”, ketika saya tanya tentang tiketnya yang tercantum tujuan akhir Surabaya Gubeng, akhirnya si ibu itu mengaku bahwa tiket itu dia beli dari seorang calo dengan tawar menawar harga semurah mungkin.

Melihat kasus di atas tentunya si calo akan membeli tiket dengan tujuan terdekat yang jauh lebih murah daripada beli tiket dengan tujuan yang sebenarnya, dengan anggapan bahwa tiket hanya diperiksa satu kali sehingga “asal tiket bolong” berarti aman tidak akan diperiksa lagi, dan bisa turun di mana saja asal tidak ketahuan.

Dari kasus di atas kurang ketatnya pemeriksaan tiket “on-board” ternyata memberi ruang bagi para calo untuk beraksi. Terutama dengan adanya sistem pembelian tiket online, calo pun tidak perlu datang mengantri di loket kereta untuk membeli tiket, mereka hanya perlu identitas si “pelanggan”.

2. Don’t buy food on train

Nah ini dia image yang merekat kuat di Indonesia yang ternyata juga ada di sebagian negara yang kurang memperhatikan kualitas makanan mereka.

Memang saya akui bahwa harga makanan di kereta api Khususnya kelas Bisnis dan Eksekutif sangat mahal bila diukur dari porsi dan rasa. Singkatnya, makanan di kereta itu mahal, sedikit dan rasanya biasa aja. Image ini pun ternyata juga ada dalam diri beberapa wisatawan asing yang menggunakan jasa layanan transportasi ini. Saya pernah mendengar sendiri seorang turis yang ketika itu duduk di sisi lain kursi yang saya tempati menyarankan pada temannya untuk tidak membeli makanan di dalam kereta dengan alasan “expensive and the taste is not so good”.

Bila dinilai dari rasa, mungkin lebih tepat bila sebutan bagi mereka yang bertugas di bagian dapur untuk memasak masakan ini bukan koki, atau chef, tetapi “tukang masak”.

Ya .. oke lah, saya bisa sedikit memaklumi bahwa PT KAI secara finansial sedikit … sehingga untuk menutupi “kekurangan” finansial mereka menyediakan makanan dan minuman dengan harga di atas rata-rata dengan porsi yang begitu sedikit .. biar hemat-hemat gitu. Mirip seperti mereka yang berjualan di mall-mall yang menjual makanan begitu mahal dengan alasan “tempat yang nyaman” untuk nongkrong, untuk menutupi biaya sewa yang tinggi.

Katakanlah mie rebus, mie yang dimasak adalah mie instan, siapa sih yang gak bisa bikin mie instan. Di kereta api mie instan rebus dengan “plus” saus, dijual dengan harga sekitar 12 ribu rupiah. dengan sebungkus indomi seharga Rp.2100, kita bisa lihat keuntungan di atas 400% dari setiap penjualannya.

Pastikan anda membawa bekal setiap kali melakukan perjalanan menggunakan jasa layanan Kereta Api.

3. Perlintasan liar memakan banyak korban

Berbicara masalah kereta api, tentunya pasti ada pembicaraan mengenai perlintasan liar yang sering memakan korban. Dalam masalah yang juga termasuk klasik ini, permasalahan yang mendasar sebenarnya ada pada masyarakatnya yang tidak menyadari bahayanya perlintasan kereta api liar dan membuat perlintasan-perlintasan sendiri tanpa persetujuan PT. KAI hanya sekedar untuk “memperpendek” jarak tempuh dari satu lokasi ke lokasi lainnya, yang ternyata juga ikut ambil bagian dalam langkah memperpendek umur para pengguna perlintasan liar.

Dengan maraknya perlintasan kereta api liar baik itu yang berpintu maupun tanpa pintu, yang dijaga maupun tidak dijaga, akhirnya PT. KAI memiliki tanggung jawab baru yaitu menertibkan perlintasan-perlintasan liar ini baik itu dengan cara menutup perlintasan liar secara permanen atau bahkan memperbaiki perlintasan yang dirasa efektif dan memenuhi standar keselamatan dengan menambahkan pintu perlintasan dan dilengkapi dengan pos penjagaan.

4. Sarana transportasi massal yang paling tepat waktu

Dari sekian lama pengalaman saya menggunakan sarana transportasi ini, sejak saya masih digendong sampe sekarang, memang yang saya rasakan adalah bahwa Kereta Api adalah sarana transportasi yang paling tepat waku, meskipun tidak 100%, tetapi ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangannya lebih tepat waktu daripada sarana transportasi lainnya. Mungkin dengan alasan itu pula Kereta Api adalah salah satu sarana transportasi paling faforit yang digunakan masyarakat Jepang yang orang-orangnya terkenal begitu menghargai waktu.

Nah, kalau menggunakan Kereta Api untuk bepergian jangan sampe terlambat datang ke stasiun saat keberangkatan, bisa-bisa ketinggalan kereta.


Dipublikasikan oleh theangelwing dalam kategori Komentar & Opini pada tanggal Feb 19, 2016
Tags : , ,


www.000webhost.com