Menutup Masjid-Masjid Salafi, Jerman Tegas Melawan Radikalisme


Menurut konsulat Jerman, Sigmar Gabriel, Masjid-masjid yang berafiliasi dengan sekte ultra-konserfatif dari Islam Suni yang disebut sebagai Salafisme harus ditutup, komunitas mereka dibubarkan dan penceramah diusir secepatnya. Hal ini dilakukan Jerman untuk menangkal gerakan-gerakan radikalisme secara tegas di negaranya.

Berafiliasi dengan ISIS

Hal ini dilakukan oleh Gabriel untuk menindaklanjuti penceramah Salafi, Abu Walaa, yang ditahan pada bulan November bersama beberapa orang lain karena merekrut orang-orang Jerman untuk bergabung dengan kelompok teroris ISIS, atau yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan umum Islamic State. Tersangka serangan truk, yang membunuh 12 orang pada Berlin Christmas market, dipercaya pernah berhubungan dengan Abu Walaa.

Salafisme sendiri berkembang cepat di Jerman, berkembang dengan ijin dan dukungan dari Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya.

Bukan yang pertama kali

Pada bulan Mei 2016, sebuah protes juga terjadi mengenai pembangunan masjid di Jerman. Mereka memprotes dibangunnya masjid-masjid Ahmadiyah di Erfurt, ibu kota Thurigia.

Diketahui bahwa aliran Ahmadiyah sendiri telah dilarang dan dinyatakan sebagai aliran terlarang di beberapa negara termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam, sementara di Indonesia sendiri dianggap sebagai alian yang menyimpang dari Islam.

Di Jerman pembangunan masjid selalu menimbulkan kekhawatiran

Jerman adalah salah satu negara yang menjunjung tinggi kebabasan beragama, akan tetapi perlakukan terhadap agama minoritas berbeda-beda di setiap daerah. Sering kali saat pemerintah akan membangun sebuah masjid, muncul reaksi penolakan dan memicu kontrofersi, terutama kekhawatiran akan fundamentalisme Islam yang menuju pada radikalisme dan terorisme terutama setelah serangan 11 September, yang direncanakan oleh salah satu sel teror di Hamburg, Jerman.

Salah satu kasus munculnya kekhawatiran ini yang berujung pada protes pembangunan masjid adalah pembangunan masjid besar Cologne Central Mosque. Proyek pembangunan ini ditentang oleh Ralph Giordiano dari kelompok sayap kanan dan para neo-Nazi.

Setelah melalui masa-masa sulit akhirnya masjid ini berhasil dibangun dengan bantuan dari pemerintah Turki, pinjaman bank, sumbangan dari 800 lebih organisasi muslim juga bantuan dana dari Gereja Katolik St. Theodore, Cologne. Masjid ini dibangun oleh seorang arsitek bernama Paul Bohm, dengan spesialisasi pembangunan gereja-gereja.

Tidak hanya masjid, dalam sejarah Jerman, pembangunan gereja-gereja juga pernah mengalami masa sulit, tetapi setelah sekian lama akhirnya bisa diterima di tengah masyarakat Jerman. sekitar 200 tahun lalu orang-orang kristen protestan harus bersembahyang secara sembunyi-sembunyi di tengah lingkungan Katolik. Hal ini tidak boleh lagi terjadi di masa-masa yang akan datang, sehingga gereja Katolik mendukung dibangunnya masjid ini sejak awal.

Hingga saat ini kesamaan hak antara minoritas Kristen dan Muslim dengan mayoritas penduduk Jerman yang tidak berafiliasi dengan agama apapun masih diperjuangkan di Jerman.

Dengan berbagai alasan di atas saya tentunya bisa memaklumi bila pembangunan tempat ibadah umat muslim di jerman selalu menimbulkan kontrofersi, terutama bila ajarannya dinilai radikal.

( – ) Sisi negatifnya, kebebasan memeluk agama tidak bisa dijalankan secara maksimal di negara ini.

( + ) Meskipun demikian hal ini memiliki sisi positif, yaitu sel-sel teroris menjadi sulit berkembang dan pemerintah bisa lebih tegas menangani radikalisme dan menjaga kesatuan di negaranya.

Bagaimana dengan ketegasan Indonesia menentang radikalisme ?

Referensi :
‘Zero tolerance’ : Merkel’s rival Gabriel calls for shutting down Salafist mosques in Germany – RT, 2017
German far-right to protest first-ever mosque in Thurigia – World Bulettin, 2016
Huge mosque stirs protests in Cologne – Telegraph, 2007
Cologne Central Mosque – Wikipedia
Religion in Germany – Wikipedia


Dipublikasikan oleh theangelwing dalam kategori Dunia pada tanggal Jan 09, 2017
Tags :