Manfaatkan Muscle Memory Dalam Bermain Rubik


Salah satu alasan saya menulis posting kali ini adalah adanya banyak pertanyaan mengenai cara mudah mengingat rumus penyelesaian rubik dan banyaknya kasus dimana para pemain rubik membuang waktu untuk mengingat solusi sebuah kasus dalam permainan rubik saat mencoba Speedsolving.

Saat ini rubik bukan lagi sekedar brain games

Banyak orang menganggap rubik sebagai sebuah brain games atau permainan yang banyak menggunakan otak, tetapi dengan banyaknya rumus solusi dengan berbagia metode yang tersebar di internet membuat permainan, menurut saya, ini bukan lagi permainan otak, tetapi lebih kepada permainan yang mengasah koordinasi otak dan otot melalui syaraf motorik.

Meskipun banyak sekali orang yang bisa menyelesaikan kubus rubik, tetapi kebanyakan dari mereka menggunakan metode klasik dengan rumus yang sedikit tetapi memakan waktu lama untuk menyelesaikan permainan ini, sementara untuk bisa menyelesaikan rubik dengan cepat diperlukan banyak sekali rumus algoritma yang harus dihapalkan.

Dengan pembahasan mengenai muscle memory ini, saya akan memberikan sebuah tips, bukan hanya cara yang mudah untuk mengingat, tetapi juga cara yang bisa anda gunakan untuk menyelesaikan rubiks cube tanpa mengingat rumus algoritma.

… what ? serius ?

Saya yakin, sebenarnya para speedsolver menerapkan metode ini disadari maupun tidak. Lalu, bagaimana cara kerja muscle memory ini ?

Sebelumnya saya bahas dulu mengenai definisi muscle memory, apa yang dimaksud dengan muscle memory.


Muscle memory adalah sebuah metode yang sering kali digunakan dalam pembelajaran motorik, sebuah bentuk ingatan prosedural yang melibatkan penyimpanan informasi pada otot melalui sebuah pengulangan, sehingga kedepannya informasi berupa gerakan otot ini bisa dilakukan tanpa kesadaran sepenuhnya.”


Dengan definisi di atas, sebenarnya banyak hal yang kita lakukan adalah hasil dari pemanfaatan muscle memory. Misalnya gerakan anda berjalan. Saya yakin tidak ada satu pun dari anda yang membaca artikel ini berpikir dulu menghapalkan cara berjalan, baru anda melakukan aktifitas berjalan.

Pembelajaran motorik berjalan sudah anda lalui ketika anda masih kecil, meskipun saat itu anda masih perlu dibantu oleh orang tua, tetapi proses belajar berjalan ini dilakukan berulang-ulang dan otot kaki dan tubuh anda mengingat bagaimana caranya berjalan, sehingga yang perlu dilakukan oleh otak adalah memberikan sinyal, “saya ingin ke sana”, informasi ini akan diterjemahkan sebagai gerakan berjalan yang anda lakukan untuk menuju tempat yang diinginkan.

Contoh lainnya adalah pada beladiri. Setiap kali kita melihat seseorang berlatih beladiri, kita akan melihat orang tersebut mengulang gerakan yang sama, terkadang bila terjadi kesalahan, instruktur akan memperbaiki postur dan meminta orang itu untuk mengulangi gerakan yang benar. Misalnya gerakan memukul dan menangkis.

Yang dilakukan oleh orang yang mendalami beladiri tersebut adalah proses pemanfaatan muscle memory, sehingga kedepannya ketika orang tersebut akan dipukul oleh lawan, dia tidak perlu berpikir lagi mengenai bagaimana caranya menangkis pukulan yang dilancarkan. Otak akan memberikan sinyal secara visual mengenai arah datang pukulan serta postur tubuh penyerang, yang kemudian oleh syaraf motorik, sinyal ini diterjemahkan menjadi gerakan menangkis yang sesuai untuk menghindari pukulan tersebut atau melakukan counter.

Nah … dengan segala omongan ngalor-ngidul di atas, kita terapkan kondisi yang sama seperti saat berlajar berjalan dan belajar bela diri pada belajar solving rubik menggunakan berbagai rumus yang ada.

Untuk contoh saya akan menggunakan salah satu rumus OLL, dimana nantinya metode pemanfaatan muscle memory untuk menghapal eksekusi ini juga bisa diterapkan para rumus algoritma lain.

Perhatikan kata yang dicetak miring .. menghapal eksekusi .. karena kedepannya yang akan anda hapalkan bukan lagi berupa rumus, tetapi berupa gerakan otot untuk menyelesaikan sebuah kasus dalam solving rubiks cube.

Perhatikan salah satu OLL dan algoritma solusinya di bawah ini.


Solusi : R U R’ U’ R’ F R F’ dengan sticker orange menghadap anda

Meskipun tertulis rumus solusi untuk OLL (Orient Last Layer) tersebut sebagai rangkaian huruf, bukan huruf-huruf ini yang perlu anda hapalkan, tetapi gerakan jari-jari dan tangan anda dalam mengeksekusi rumus di atas yang akan dihapalkan, bukan oleh otak, tetapi oleh otot jari tangan.

Pada rumus solusi di atas sebenarnya terdiri dari 2 pola gerakan, yaitu (R U R’ U’) dan (R’ F R F’).

Sekarang anda perlu menginputkan dua rumus tersebut kedalam ingatan otot anda. Caranya, lakukan gerakan rumus pertama secara berulang-ulang sambil posisikan jari-jari anda supaya bisa mengeksekusi R U R’ U’ dengan cepat dan nyaman. Setelah merasa pergerakan tangan anda nyaman untuk mengeksekusi gerakan tersebut dengan cepat dan nyaman, lakukan berulang sampai anda bisa mengeksekusi pola gerakan pertama tanpa anda memikirkan mengenai huruf R U R’ U’ dalam otak anda.

Hapalkan gerakan tangan anda, dan lakukan berulang-ulang.

Lakukan hal yang sama pada pola gerakan kedua, yaitu R’ F R F’.

Yang perlu anda lakukan berikutnya adalah menggabungkan dua pola gerakan tersebut secara motorik, tanpa bantuan ingatan otak terhadap huruf-huruf rumus yang gak jelas itu, sementara otak hanya perlu menghapal pola kasus OLL pada gambar di atas.


Sehingga yang terjadi adalah : Otak anda mengenali pola kasus OLL, dimana pengenalan pola ini diterjemahkan oleh syaraf motorik sebagai gerakan otot meng-eksekusi 2 atau lebih pola gerakan secara berurutan.


Bila anda menguasai metode ini, yang terjadi berikutnya adalah remember and forget dimana anda hanya akan menghapalkan rumus solusi berupa susunan huruf untuk diterjemahkan menjadi beberapa set gerakan, dimana kemudiannya gerakan-gerakan ini akan diingat oleh otot dan otak anda bisa digunakan untuk menghapalkan algoritma lain, tanpa perlu takut otak anda melupakan algoritma yang sudah diingat, karena meskipun otak anda tidak mengingat huruf-huruf rumusnya, algoritma tersebut sudah diterjemahkan sebagai gerakan, bukan lagi rumus yang berisi susunan huruf dan kode, dan diingat oleh otot jari tangan anda.

Seperti ketika seorang yang belajar beladiri menemui kasus akan dipukul oleh lawan, tanpa otak bekerja pun, otot-otot tubuh akan melakukan gerakan menangkis atau menghindar hanya dengan input berupa visual musuh yang menyerang. Dalam kasus bermain rubik, anda akan menemui kasus sebuah pola OLL secara visual dan pengenalan pola tersebut akan diterjemahkan sebagai satu set gerakan otot untuk menyelesaikan kasus OLL tersebut.

Karena alasan itu dalam bermain rubik perlu latihan secara rutin, terutama set-set gerakan yang anda ciptakan dari memilah-milah rumus algoritma seperti yang saya lakukan di atas, supaya otot (bukan otak) bisa selalu mengingat solusi dengan mudah, sementara otak hanya perlu mengingat pola-pola kasus yang perlu diselesaikan.

Bermain rubik baik untuk melatih syaraf motorik dan meningkatkan sinkronisasi antara otak dan otot.

Tips : Setelah anda memilah rumus algoritma menjadi 2 atau 3 set pergerakan otot, carilah rumus-rumus algoritma yang memiliki pergerakan yang sama atau hampir sama untuk kasus-kasus lain, sehingga otot tidak perlu mengingat terlalu banyak gerakan, tetapi bisa digunakan untuk menyelesaikan sebagian besar kasus dalam solving rubiks cube dengan lebih mudah.


Dipublikasikan oleh theangelwing dalam kategori Games pada tanggal Jan 09, 2017
Tags : , ,