Teluk Aden, Perairan Laut Paling Berbahaya Di Dunia


Teluk Aden, adalah perairan di sekitar Laut Arab yang terletak di antara Yaman dan Somalia, sebuah negara yang terletak di kawasan yang disebut sebagai “Tanduk Afrika”. Setiap pelayaran antara Laut Mediterania dan Laut Arab harus melalui teluk Aden baik itu untuk menuju ke Terusan Suez atau setelah meninggalkannya membuat perairan ini adalah perairan dengan lalu lintas laut yang tersibuk di dunia dengan kuota hingga lebih dari 20,000 kapal kargo per tahun.


Perompak Atau Bajak Laut Somalia

Bajak Laut adalah salah satu hal yang paling ditakuti di laut selain cuaca buruk dan Teluk Aden adalah “surga” bagi para bajak laut Somalia dimana perairan ini adalah tempat dengan frekuensi serangan bajak laut terbanyak di dunia yang terjadi hampir setiap hari. Serangan perompak di wilayah ini tidak hanya terjadi di teluk Aden saja, tetapi hingga di Samudra Hindia, ratusan kilometer sebelah barat Somalia.

Salah satu yang paling dikenal dan difilmkan adalah pembajakan kapal kargo Maersk Alabama pada tanggal 8 April 2009 dimana kapal ini dibajak oleh 4 orang bajak laut di sekitar 240 mil laut tenggara Somalia. Para pembajak biasanya akan meminta tebusan berupa uang dengan jumlah yang semakin bertambah mulai dari sekitar 350 ribu USD hingga 7 juta USD dan beberapa perusahaan pelayaran terpaksa membayarkan tebusan untuk menyelamatkan kapal beserta krunya. Beberapa perompak juga tidak segan-segan melukai bahkan membunuh tawanannya.

Gerakan Anti-Perompak Di Perairan Somalia

Sejak tahun 2008 pihak militer di beberapa negara termasuk anggota PBB, NATO dan Uni Eropa mulai melancarkan aksi untuk menekan aksi brutal perompak di perairan Somalia, ada angkatan laut dari 20 negara yang berpatroli di sekitar teluk Aden dimana misi mereka adalah untuk menggagalkan aksi pembajakan dan membawa para pelaku ke pengadilan untuk ditindak secara hukum, beberapa negara yang ikut ambil bagian dalam gerakan ini di luar NATO dan Uni Eropa adalah dari Australia, China, India, Iran, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Pakistan, Rusia, Thailand dan Arab Saudi.

Sebelum memutuskan untuk menghentikan dan menangkap sebuah kapal, angkatan laut akan mengirimkan helikopter untuk memastikan bahwa yang mereka dekati adalah perompak dengan memeriksa secara visual dari udara apa saja yang ada di atas kapal termasuk adanya tangga, tali dengan kait hingga senjata api, dimana barang-barang tersebut bisa digunakan sebagai barang bukti di pengadilan. Pada beberapa kasus bila para perompak melihat helikopter ini, mereka membuang senjata, tangga maupun peralatan lain ke laut dan berpura-pura sebagai nelayan sehingga mereka tidak bisa ditangkap karena tidak ada barang bukti fisik yang bisa diajukan ke pengadilan.

Perompak Dan Tentara Bayaran

Kehadiran perompak yang mengkhawatirkan membuat beberapa pihak berinisiatif untuk mendirikan perusahaan yang menyediakan jasa keamanan dengan menyewakan tentara bayaran, tentunya tentara bayaran ini bukan sekedar orang bersenjata, tetapi orang-orang profesional yang terlatih dalam menggunakan senjata dan beberapa diantara mereka adalah mantan militer angkatan laut. Tentara bayaran ini tidak segan-segan untuk menembak mati ditempat bila mereka melihat perompak yang datang, biasanya biro jasa menyewakan para tentara bayaran ini hingga 1 juta USD. Bila dilihat dari jumlah uang tebusan yang diminta oleh perompak tentunya harga ini lebih murah. Meskipun demikian tidak semua perusahaan perkapalan mampu atau mau menyewa tentara bayaran sehingga masih ada beberapa kapal yang bisa dibajak oleh para perompak bila pasukan keamanan gabungan terlambat dalam menyelamatkan kapal yang menjadi target pembajakan.

Senjata Dan Peralatan Yang Digunakan Oleh Perompak

Para perompak menggunakan tangga atau tali yang diberi kait (grappling hook) di bagian ujungnya untuk memanjat lambung kapal, dengan bekal perahu motor kecil dengan mesin yang kuat sehingga memiliki laju yang cepat untuk mengejar kapal kargo dari belakang mereka biasanya mengelilingi target terlebih dahulu untuk mencari celah teraman untuk bisa menaiki kapal di kondisi perairan yang tidak tenang. Untuk mencegah hal ini beberapa kapal dilengkapi dengan peralatan untuk mempertahankan diri mulai dari menyemprotkan air laut menggunakan pipa besar berkekuatan tinggi hingga peralatan canggih lainnya yang terkadang melibatkan zat kimia.

Selain berbekal perahu dan peralatan untuk memanjat, para perompak juga berbekal senjata api yang biasanya adalah senapan serbu AK-47, termasuk juga pelontar granat RPG-7 hingga senapan mesin jinjing PKM yang tidak segan-segan akan mereka tembakkan untuk melumpuhkan kapal. Kondisi Somalia yang penuh dengan peperangan dan adanya pasar gelap membuat mereka bisa mendapatkan akses persenjataan ini dengan harga yang relatif murah, bahkan untuk senapan serbu AK-47 bisa mereka dapatkan hanya dengan harga 30 – 150 USD saja (sekitar 400 ribu – 2 juta rupiah), beberapa persenjataan mereka dapatkan dari negara tetangga mereka, Yaman. Dengan berbekal senjata tersebut mereka menakut-nakuti awak kapal, atau mengeksekusi tawanan bila permintaan mereka tidak segera dipenuhi.

Pemicu Adanya Aktifitas Pembajakan Di Teluk Aden

Somalia adalah sebuah negara miskin yang dilanda perang, sebuah kondisi yang sangat buruk ini membuat beberapa orang Somalia memilih untuk mencari uang dengan cara singkat dengan memanfaatkan kesibukan pelayaran di Teluk Aden. Dalam video dokumenter yang menunjukkan kondisi Somalia tampak banyak sekali penduduk yang tinggal di reruntuhan bangunan hanya dengan membuat sekat dari kain-kain, bahkan beberapa di antara mereka mendirikan tenda dari bahan seadanya yang mereka kumpulkan dari reruntuhan bangunan sisa-sisa perang dan kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Dalam beberapa video ada salah seorang perompak yang tertangkap menyatakan bahwa mereka terpaksa melakukan ini karena mereka, yang dulunya adalah nelayan, mulai kesulitan menangkap ikan karena adanya kapal asing yang juga beroperasi menangkap ikan di perairan mereka. Mungkin alasan ini juga yang membuat para perompak itu tidak hanya membajak kapal kargo tetapi juga membajak kapal nelayan lain, terkadang kapal nelayan asing yang kedapatan sedang mencari ikan di sekitar Samudra Hindia, menyita kapal nelayan dan menggunakannya untuk membajak kapal lain.

Kondisi Somalia yang terpuruk ditambah dengan aktifitas illegal fishing membuat beberapa nelayan Somalia memilih jalan yang keras untuk menyambung hidup dengan membajak kapal asing.

Pembajakan Mulai Mereda

Pada tahun 2013 dilaporkan bahwa hanya ada 9 aksi percobaan pembajakan sepanjang tahun itu dan tidak ada satu pun yang berhasil. Laporan ini menunjukkan penurunan aktifitas pembajakan hingga 90% sejak tahun 2012. Sinyal darurat pernah dilancarkan oleh kapal MV Marzooqah pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa kapal tersebut sedang diserang oleh bajak laut, tetapi ternyata yang terjadi adalah kapal tersebut dihentikan oleh pihak militer angkatan laut Eritrea ketika memasuki kawasan perairan Eritrea, sebuah negara di utara Ethiopia.

Meskipun demikian hingga saat ini perairan di sekitar Somalia terutama di Teluk Aden masih rawan akan pembajakan.

Beberapa film Tentang Perompak Somalia

  1. Captain Phillips
    Captain Phillips adalah sebuah film yang diangkat dari kisah nyata pembajakan sebuah kapal kargo Maersk Alabama yang terjadi pada tahun 2009 dan sebuah aksi menegangkan penyelamatan sang kapten.
  2. Fishing Without Nets
    Ini adalah sebuah film yang menceritakan mengenai Perompak Somalia, berbeda dengan film lain di sini kita akan dibawa dalam sebuah kisah dari sudut pandang para perompak, bagaimana mereka menghadapi kerasnya kehidupan di Somalia hingga terpaksa membajak kapal asing.
  3. A Hijacking (Kapringen)
    Sebuah film Denmark yang menceritakan pembajakan kapal kargo Denmark, film ini memfokuskan cerita pada proses negosiasi tebusan antara pemilik perusahaan perkapalan dan pimpinan perompak.

Dipublikasikan oleh theangelwing dalam kategori Dunia pada tanggal Oct 06, 2015