Gunung Berapi Dan Penurunan Suhu Bumi


Indonesia adalah negara yang terkenal sebagai negara seribu gunung berapi dan merupakan surga bagi para peneliti kegunungapian di seluruh dunia. Tidak banyak dari kita yang mengetahui bahwa gunung berapi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam perubahan suhu udara di bumi, salah satunya adalah penurunan suhu bumi dan para ilmuwan percaya bahwa Ice Age atau jaman es dipicu oleh letusan salah satu gunung api terbesar di Indonesia.

foto gunung bromo dan semeru oleh A17N Photography
Foto gunung bromo

Volcanic winter adalah sebuah kondisi dimana suhu udara di beberapa atau seluruh belahan dunia turun disebabkan oleh debu-debu vuklanik dan Sulfur Dioksida yang menutup matahari dan meningkatkan kemampuan bumi untuk memantulkan radiasi matahari (albedo) yang terjadi setelah letusan besar sebuah gunung berapi.
Panjangnya jangka waktu pendinginan bergantung pada injeksi sulfida dalam bentuk aerosol ke lapisan atas atmosfer (stratosphere).

Beberapa kasus penurunan suhu permukaan bumi karena letusan gunung berapi adalah sebagai berikut :

Yang paling dekat adalah pada tahun 1991, letusan Gunung Pinatubo, sebuah stratovolcano di Filipina mendinginkan temperatur global selama 2-3 tahun.

Tahun 1883, letusan Krakatu menciptakan kondisi seperti “Musim Dingin Vulkanik”. Selama empat tahun setelah letusan suhu udara sangat dingin, dan musim dingin 1887 hingga 1888 disertai dengan badai es yang kuat. Salju turun dilaporkan di seluruh dunia.

Tahun 1815, erupsi gunung Tambora, sebuah Stratovolcano di Indonesia, membuat hawa dingin di pertengahan musim panas di New York dan hujan salju di bulan Juni di New England, Newfoundland dan Labrador, sebuah kejadian alam yang disebut sebagai “Year Without a Summer” (Tahun tanpa musim panas) di tahun 1816.

Ads

Tahun 1600, gunung Huaynaputina di Peru meletus. Penelitian dari lingkaran pohon menunjukkan bahwa tahun 1601 suhunya dingin. Rusia mengalami kelaparan terburuk tahun 1601 hingga 1603. Dari tahun 1600 hingga 1602, Switzerland, Latvia dan Estonia mengalami musim dingin yang sangat dingin. Panen anggur terlambat di Perancis pada tahun 1601, di Peru dan jerman produksi anggur benar-benar terhenti. Pohon Peach terlambat berbunga di Cina, dan Danau Suwa di Jepang membeku lebih awal.

Dan yang terakhir dan ter-dahsyat adalah erupsi Super volcano Toba yang memiliki VEI (Volcanic Explosivity index) skala 8 yang disebut sebagai ‘mega-colossal’ membuatnya menjadi erupsi vulkanik terbesar selama 25 juta tahun terakhir.

Untuk menggambarkan betapa dahsyatnya letusan Gunung Toba ini, berikut adalah sedikit gambarannya :

Meskipun kejadiannya di Indonesia tetapi gunung Toba menjatuhkan lapisan debu kira-kira 15cm di seluruh Asia Selatan; di satu sisi di India Tengah, lapisan abu Toba saat ini hungga setebal 6 meter dan bagian dari Malaysia tertutup setinggi 9 meter hujan abu. Selain itu selimut abu vulkanik gunung Toba ini juga mengendap di Samudra India, termasuk juga Laut Arab dan Laut Cina Selatan.

Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University menyatakan bahwa jumlah total material yang dikeluarkan sekitar 2800 km³. Sekitar 2000 km³ ignimbrite yang mengalir di atas tanah, dan sekitar 800 km³ yang jatuh sebagai abu, dengan angin yang bertiup ke arah barat. Hembusan pyroclasticnya menghancurkan daerah seluas 20000 kilometer persegi dengan deposit abu setebal 600 meter di celah utama.

Letusan toba ini juga menyebabkan ‘musim dingin vulkanik’ dengan penurunan suhu di seluruh dunia antara 3-5 °C dan hingga 15 °C di tempat yang lebih tinggi.


Dipublikasikan oleh theangelwing dalam kategori Science pada tanggal May 18, 2016


www.000webhost.com